Wednesday, January 30, 2013
SENI UPACARA DI JAWA BARAT
Kearifan lokal adalah sumber pengetahuan yang diselenggarakan dinamis, berkembang dan diteruskan oleh populasi tertentu yang terintegrasi dengan pemahaman mereka terhadap alam dan budaya sekitarnya.
Kearifan lokal adalah dasar untuk pengambilan kebijakkan pada level lokal di bidang kesehatan, pertanian, pendidikan, pengelolaan sumber daya alam dan kegiatan masyarakat pedesaan.
Dalam kearifan lokal, terkandung pula kearifan budaya lokal. Kearifan budaya lokal sendiri adalah pengetahuan lokal yang sudah sedemikian menyatu dengan sistem kepercayaan, norma, dan budaya serta diekspresikan dalam tradisi dan mitos yang dianut dalam jangka waktu yang lama.
Jadi, untuk melaksanakan pembangunan disuatu daerah, hendaknya pemerintah mengenal lebih dulu seperti apakah pola pikir dan apa saja yang ada pada daerah yang menjadi sasaran pembangunan tersebut. Adalah sangat membuang tenaga dan biaya jika membuat tempat wisata tanpa memberi pembinaan kepada masyarakat setempat bahwa tempat wisata tersebut adalah “ikon” atau sumber pendapatan yang mampu mensejahterakan rakyat didaerah itu. Atau lebih sederhananya, sebuah pembangunan akan menjadi sia-sia jika pemerintah daerah tidak mengenal kebiasaan masyarakat atau potensi yang tepat untuk pembangunan didaerah tersebut.
Pembangunan tersebut akan tidak tepat sasaran, bahkan mungkin akan menyengsarakan rakyat dan tidak membawa kemajuan berarti karena ketidak pahaman pemerintah terhadap kearifan lokal maupun kearifan budaya lokal pada daerah tersebut. Seperti halnya pertambangan emas di wilayah timur Indonesia. Mungkin mereka membawa keuntungan bagi negara, tapi bagaimanakah tingkat kesejahteraan penduduknya?
Nampaknya mereka masih ada pada garis kemiskinan yang mengakibatkan kurangnya pendidikan sebagai contohnya adalah Jawa Barat.
Provinsi Jawa Barat adalah provinsi dengan jumlah penduduk terbanyak di Indonesia. Bandung sebagai ibu kota provinsi, merupakan kota dengan jumlah penduduk terbesar ketiga di Indonesia setelah Jakarta dan Surabaya.
Sebagian penduduk Jawa Barat adalah Suku Sunda. Selain itu, ada campuran Sunda dengan Jawa di pantai utara Cirebon serta sebagian kecil pesisir Indramayu. Mata pencaharian penduduk Jawa Barat yang utama adalah bertani. Bertaninya pun bermacam-macam. Ada yang bertani padi, sayur-sayuran, buah-buahan, dan bunga-bungaan. Selain itu, di daerah Jawa Barat juga banyak terdapat perkebunan teh, cengkih, tebu, dan kina.
Kebudayaan masyarakat Jawa Barat terpengaruh dari 4 sumber, yaitu Hindu/Budha, Islam, Jawa, dan kebudayaan barat. Ini dapat dilihat dari upacara yang disertai membakar kemenyan (pengaruh Hindu), doa-doa menurut agama Islam, pakaian pernikahan tanpa baju dan berbentuk wayang orang (pengaruh Jawa Tengah), dan seni macapat. Kali ini saya akan membahas tentang kesenian upacara yang disertai membakar kemenyan.
Upacara itu dimulai oleh seorang punduh (sesepuh upacara) perempuan, yang berdoa sambil membakar kemenyan, memohon kepada Tuhan Yang Maha Kuasa dan mengucapkan rasa syukurnya atas hasil panen yang didapat. Setelah sampai di suatu tempat, kucing dan ayam jago dimandikan, kemudian dilepas. Gondang pun dimainkan.
Lain halnya dengan gondang yang dimainkan untuk kepentingan kenduri. Suara lesungnya yang terdengar sampai jauh, berfungsi sebagai pemberitahuan atau sebagai tanda adanya seseorang yang akan mengadakan kenduri. Suara tutunggulan dan nyanyian-nyanyian itu adalah undangan kepada khalayak ramai untuk datang kepada orang yang punya kenduri.
Tutunggulan biasanya dilakukan jauh hari sebelum kenduri seseorang itu dilaksanakan. Biasanya selama tiga hari sampai dengan seminggu. Akan tetapi, ritus-ritus tersebut kini mulai hilang dan gondang pun jarang dimainkan lagi.
Pola permainannya dibagi menjadi dua bagian, yakni tutunggulan dan nyanyian. Dalam Gondang Buhun terdapat empat jenis tutunggulan yang paling dominan, setiap jenisnya mempunyai irama yang khas.
http://www.disparbud.jabarprov.go.id/wisata/dest-det.php?id=...
- Buku Salam Sahabat Nusantara: Jawa Barat yang Memesona, Penerbit: Doenia Aksara
- Muflihah, Rangkuman Pengetahuan Umum Lengkap Sekolah Dasar, Penerbit: Puspa Swara, Jakarta, 2007.
Sunday, January 20, 2013
PEMBAKARAN LOH LELUHUR DI BALI
Kehidupan di dunia ini dapat diibaratkan sebagai perang antara nafsu baik dan nafsu yang tidak baik. Agar manusia dapat memenangkan perang tersebut, sehingga pada saat kematian rohnya kembali kepada Tuhan Yang Maha Esa, manusia harus dapat menempatkan hati nuraninya di atas nafsu. Dengan kata lain, hati nurani manusia haruslah menguasai nafsu. Jika hati nurani dikuasai oleh nafsu pada saat kematian roh manusia dapat kembali kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Bagaimana agar seseorang dapat menjaga hati nuraninya selalu berada di atas nafsu? Budaya Jawa mengajarkan agar seseorang selalu menjalani laku, seperti berpuasa dan lain-lain, sebagai latihan pengendalian diri sehingga dapat mengendalikan diri apabila timbul rangsangan untuk bertindak yang tidak baik. Selain itu budaya Jawa juga mengajarkan agar seseorang selalu mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa, sehingga selalu mendapatkan terang dari-Nya yang akan menyebabkannya dapat berpikir secara jernih dan bersih.
Tujuan hidup manusia adalah selamat di dunia maupun di alam kelanggengan. Untuk dapat mencapai tujuan itu manusia dituntut untuk terus menerus berjuang menegakkan kebenaran. Dalam kehidupan di dunia yang sesaat, manusia harus dapat mengisinya dengan tindakan baik. Oleh karena itu budaya Jawa selalu mengingatkan bahwa kehidupan di dunia ini hanyalah sementara sifatnya.
Peringatan tersebut diungkapkan dalam istilah “wong urip iku mung mampir ngombe”. Apabila seseorang selalu ingat akan hal ini dan mengisi kehidupan sesaat dengan tindakan baik, maka dapatlah diharapkan tujuan hidup seseorang akan tercapai, yaitu selamat di dunia maupun di alam kelak nanti.
Namun,dalam kearifan local kali ini. Saya akan membahas tentang pembakaran mayat di Bali yang biasa kita sebut dengan Ngaben.
Ngaben adalah upacara pembakaran mayat yang dilakukan di Bali, khususnya oleh yang beragama Hindu, dimana Hindu adalah agama mayoritas di Pulau Seribu Pura ini. Di dalam Panca Yadnya, upacara ini termasuk dalam Pitra Yadnya, yaitu upacara yang ditujukan untuk roh lelulur.
Makna upacara Ngaben pada intinya adalah untuk mengembalikan roh leluhur (orang yang sudah meninggal) ke tempat asalnya.
Upacara Ngaben biasanya dilaksanakan oleh keluarga sanak saudara dari orang yang meninggal, sebagai wujud rasa hormat seorang anak terhadap orang tuanya. Dalam sekali upacara ini biasanya menghabiskan dana 15 juta s/d 20 juta rupiah (saat ini sudah ada Ngaben massal yang biaya lebih irit).
Upacara ini biasanya dilakukan dengan semarak, tidak ada isak tangis, karena di Bali ada suatu keyakinan bahwa kita tidak boleh menangisi orang yang telah meninggal karena itu dapat menghambat perjalanan sang arwah menuju tempatnya.
Hari pelaksanaan Ngaben ditentukan dengan mencari hari baik yang biasanya ditentukan oleh Pedanda/Pinandita yang akan memimpin upacara. Beberapa hari sebelum upacara Ngaben dilaksanakan keluarga dibantu oleh masyarakat akan membuat “Bade dan Lembu” yang sangat megah terbuat dari kayu, kertas warna-warni dan bahan lainnya. “Bade dan Lembu” ini merupakan tempat mayat yang akan dilaksanakan Ngaben.
Pagi hari ketika upacara ini dilaksanakan, keluarga dan sanak saudara serta masyarakat akan berkumpul mempersiapkan upacara. Mayat akan dibersihkan/dimandikan atau yang biasa disebut “Nyiramin” oleh masyarakat dan keluarga. “Nyiramin” ini dipimpin oleh orang yang dianggap paling tua didalam masyarakat.
Setelah itu mayat akan dipakaikan pakaian adat Bali seperti layaknya orang yang masih hidup.
Sebelum acara puncak dilaksanakan, seluruh keluarga akan memberikan penghormatan terakhir dan memberikan doa semoga arwah yang diupacarai memperoleh tempat yang baik.
Setelah semuanya siap, maka mayat akan ditempatkan di “Bade” untuk diusung beramai-ramai ke kuburan tempat upacara Ngaben, diiringi dengan “gamelan”, “kidung suci”, dan diikuti seluruh keluarga dan masyarakat, di depan “Bade” terdapat kain putih yang panjang yang bermakna sebagai pembuka jalan sang arwah menuju tempat asalnya.
BENTUK KASIH SAYANG TERHADAP ANAK DALAM BUDAYA JAWA BARAT
Bagi seorang anak manusia, keluarga inti adalah tempat sosialisasi pertama bagi dirinya, yang terjalin melalui kasih sayang dan pola asuh. Di setiap kebudayaan, tentu akan ditemui pola pengasuhan dalam keluarga yang berbeda pula. Seperti halnya di dalam kebudayaan, di mulai dari keluarga, terdapat sebuah tata cara mendidik seorang anak yakni pendidkan karakter, pembentukan moral dan etika, yang keseluruhan itu terbingkai pada falsafah hidup masyarakat Jawa. Oleh sebab itu, keluarga inti bagi masyarakat Jawa merupakan kesatuan keluarga yang paling penting
Secara ideal, pembagian peran dalam sebuah keluarga meliputi keberadaan ayah menjadi seseorang yang bekerja untuk mencari sumber penghidupan sedangkan pola pengasuhan akan lebih banyak dijalankan oleh seorang ibu. Untuk itulah posisi ibu memiliki andil besar dalam proses pembentukan karakter anak, dan pemberian makna di dalam keluarga. Seorang ibu menjadi sosokpusat bagi sebuah keluarga, dalam segi sosial dan ekonomi, rumah tangga.
Sejatinya, pola asuh terbagi atas beberapa fase pertumbuhan anak manusia. Pertama adalah fase anak-anak. Usia tersebut dimulai umur bayi hingga berumur 5 tahun. Disini peranan emosional, keterikatan lahiriah dan batiniah antara anak dan ibu sangat menentukan.
Pada gilirannya ibu diharuskan mendidik anak dimulai dari anak mulai belajar berbicara, bermain dan mengenal orang dewasa di sekitarnya. Segala sikap perilaku, ucapan harus sudah diperhatikan. Awalnya anak akan mengaplikasikannya di lingkungan keluarga terdekat. Sebagai misal dalam berbahasa. Kepada orang yang lebih tua, anak belajar berbahasa krama.
Anak juga belajar sopan santun pada konteks sederhana sebagai misal tata cara makan, menggunakan baju, maupun bersikap.
Sebelum membentuk pola asuh yang baik,biasanya orang jawa dalam adat istiadatnya akan mengadakan upacara sebelum anaknya yang dikandung lair. Upacara tersebut disebut upacar memitu
Upacara Memitu/Tingkeban yang berasal dari Jawa Barat dipimpin oleh seorang lebe atau sesepuh dari kaum alim ulama setempat. Pimpinan upacara biasanya membacakan doa syukuran dan membacakan surat Lukman, sekaligus menutupnya dengan doa Al Barokah. Tempat penyelenggaraan upacara adalah di rumah pasangan yang bersangkutan atau di rumah orang tua salah satu pasangan. Lokasinya biasanya di luar rumah di tempat yang agak leluasa agar bisa dilihat oleh para tamu.
Pelaksanaan upacara memitu/tingkeban yaitu pada waktu usia kandungan tujuh bulan. Tepatnya dilaksanakan pada salah satu tanggal berikut yaitu: tanggal 7, 17 atau 27, disesuaikan dengan kesiapan yang bersangkutan. Pihak utama yang terlibat upacara adalah ibu yang sedang hamil tersebut dengan suaminya, orang tua kedua belah pihak, kerabat dari kedua belah pihak, lebe atau sesepuh yang akan memimpin upacara, dan dukun bayi atau paraji yang memimpin upacara mandi.
Pihak lainnya adalah tetangga dan handai taulan dari kedua belah pihak. Maksud dan tujuan dilaksanakannya upacara ini yaitu bersyukur kepada Tuhan karena rumah tangganya dibarokahi dengan diberi keturunan. Selain itu adalah memohon agar diberi keselamatan baik bagi si ibu maupun jabang bayi pada saat melahirkan nanti.
Disamping juga memohon agar si jabang bayi lahir dengan tanpa cacat dan menjadi anak yang baik, dan membawa pengaruh sejahtera kelak hidup di dunia.
PESTA TABUIK SEBAGAI KEARIFAN LOKAL DI SUMATERA BARAT
Kearifan lokal Minangkabau saat ini banyak yang tergerus zaman, tak terkecuali upaya penanggulangan bencana. Karenanya ragam kearifan lokal itu perlu dipahami kembali oleh generasi muda dan penerus bangsa.
dalam upaya penanggulangan bencana, sebenarnya tidak boleh hanya sebatas masalah infrastruktur saja. Namun juga harus memberdayakan kearifan lokal yang dimiliki masyarakat.
Salah satu bentuk kearifan local di Sumatera Barat adalah pesta tabuik.
Tabuik adalah sebuah benda berbentuk keranda bertingkat tiga yang terbuat dari kayu, rotan, dan bambu. Tabuik merupakan benda utama yang diarak di tepi pantai untuk kemudian dibuang ke laut.
Badan Tabuik dibuat berbentuk kuda besar, bersayap lebar, dan berkepala perempuan cantik berambut panjang. Pembuatan tabuik dikerjakan dari tanggal 1 hingga 9 Muharam oleh dua kelompok masyarakat Pariaman yaitu kelompok Pasar dan kelompok Suberang. Tabuik yang dibuat pun dua buah.
Pesta Tabuik adalah sebentuk upacara masyarakat Pariaman dalam memperingati wafatnya cucu Nabi Muhammad SAW, Hassan dan Hussain di Padang Karbala. Sebagian kaum Muslim meyakini bahwa jenazah Hussain dimasukkan ke dalam peti jenazah (tabuik) dan dibawa ke langit menggunakan Bouraq.
Menurut sejarah Pariaman, pesta Tabuik adalah bentuk usaha pembauran antara pasukan Thamil yang dahulu adalah bagian dari pasukan Inggris dengan masyarakat Pariaman.
Berasal dari kata tabut, dari bahasa Arab yang berarti mengarak, upacara Tabuik merupakan sebuah tradisi masyarakat di pantai barat, Sumatera Barat, yang diselenggarakan secara turun menurun. Upacara ini digelar di hari Asura yang jatuh pada tanggal 10 Muharram, dalam kalender Islam.
Pada hari yang telah ditentukan, sejak pukul 06.00, seluruh peserta dan kelengkapan upacara bersiap di alun-alun kota.Para pejabat pemerintahan pun turut hadir dalam pelaksanaan upacara paling kolosal di Sumatera Barat ini.
Satu Tabuik diangkat oleh para pemikul yang jumlahnya mencapai 40 orang. Di belakang Tabuik, rombongan orang berbusana tradisional yang membawa alat musik perkusi berupa aneka gendang, turut mengisi barisan. Sesekali arak-arakan berhenti dan puluhan orang yang memainkan silat khas Minang mulai beraksi sambil diiringi tetabuhan.
Saat matahari terbenam, arak-arakan pun berakhir. Kedua Tabuik dibawa ke pantai dan selanjutnya dilarung ke laut. Hal ini dilakukan karena ada kepercayaan bahwa dibuangnya Tabuik ini ke laut, dapat membuang sial. Di samping itu, momen ini juga dipercaya sebagai waktunya Buraq terbang ke langit, dengan membawa segala jenis arakannya
Monday, November 5, 2012
MAKALAH "PENGARUH BUDAYA TERHADAP EFEKTIFITAS ORGANISASI"
Kata
Pengantar
Rasa syukur yang sangat
mendalam, saya panjatkan kehadirat Allah SWT, sehingga melalui rahmat-Nya yang
tiada terkira rilis pertama dari makalah pengaruh budaya terhadap efektifitas
organisasi ini dapat terselesaikan.
Puji syukur kehadirat Allah SWT
yang dengan rahmat dan hidayah-Nya,sehingga penulisan makalah berjudul “pengaruh
budaya terhadap efektifitas organisasi” ini dapat terselesaikan dengan baik.
Makalah ini disusun sebagai
salah satu tugas ilmu budaya dasar yang diberikan oleh salah satu dosen saya di
Universitas Gunadarma.
Pada kesempatan ini saya menyampaikan
terima kasih atas segala bantuan dan dukungannya yang telah diberikan selama
proses pembuatan makalah ini kepada :
1.
Bapak Heri Suprapto
selaku dosen kelas
2.
Para blogger berharga
yang memudahkan saya dalam menyusun makalah
3.
Para rekan sejawat saya
di kelas EA01
4.
Kedua orang tua
tercinta saya, atas semua doa, cinta, dorongan moril dan spiritual, financial
dan atas segala yang telah diberikan kepada saya.
Akhirnya saya berharap semoga
makalah ini bermanfaat dan dapat memberikan informasi bagi semua pihak yang
bermanfaat dan memerlukan.
Depok, 23 oktober 2012
A.
Latar
Belakang
Organisasi seringkali menghadapi berbagai persoalan
ketika terjadi interaksi dengan lingkungan terutama apabila lingkungannya tidak
stabil dan terus berkembang. Oleh sebab itu, organisasi perlu menyesuaikan diri
dengan kondisi lingkungan yang berubah-ubah tersebut agar dapat mengatasi
masalah-masalah yang terjadi. Di samping itu, pada saat yang sama organisasi
juga menghadapi masalah internal, yang mengharuskan organisasi mengatasinya
sehingga tetap terjadi suatu keterpaduan dalam fungsi organisasi. Upaya mengatasi
masalah-masalah eksternal dan internal tersebut, organisasi perlu membentuk
suatu budaya organisasi yang kuat dan sehat, bila ingin mempertahankan diri,
bahkan jika ingin terus tumbuh dan berkembang menjadi organisasi yang efektif..
Suatu efektifitas diperlukan dalam berbagai aktifitas atau kegiatan, termasuk
dalam kegiatan berorganisasi. Saat ini efektifitas organisasi menjadi masalah
penting dalam kesehariaanya. Topik ini tidak akan menghilang dari bahasan
manajemen serta ilmu organisasi. Efektifitas organisasi ini dapat dilihat dari
berbagai segi dan sudut pandang, baik dilihat dari teori maupun yang lain.
Namun, di kalangan para ahli masih terdapat perbedaan pengertian mengenai
konsep efektifitas organisasi itu sendiri dan alat ukurnya.
A.
Rumusan
Masalah
Adapun permasalahan yang
akan di bahas antara lain dapat dirumuskan sebagai berikut:
1. Apa yang dimaksud efektifitas organsiasi?
2. Ada yang dimaksud dengan budaya organisasi ?
3. Kapan suatu organisasi dapat dikatakan efektif? Apa ciri-cirinya?
4. Hubungan Budaya Organisasi dengan Efektivitas Organisasi
1. Apa yang dimaksud efektifitas organsiasi?
2. Ada yang dimaksud dengan budaya organisasi ?
3. Kapan suatu organisasi dapat dikatakan efektif? Apa ciri-cirinya?
4. Hubungan Budaya Organisasi dengan Efektivitas Organisasi
PENGANTAR
Globalisasi ekonomi dan adanya era perubahan dalam
menghadapi perdagangan bebas merupakan tantangan serius bagi para eksekutif
dalam mengelola organisasi. Hal ini menuntut kehati-hatian untuk dapat
menyesuaikan diri dengan perkembangan dan sekaligus menjaga kelangsungan
organisasi agar mampu bertahan hidup. Dalam era keterbukaan ini, batas-batas
goegrafis bukanlah merupakan hambatan bagi kemungkinan persaingan yang timbul.
Oleh karena itu, diharapkan organisasi yang ada di dalam negeri dapat
mempersiapkan diri untuk membina organisasinya, terutama sumber daya manusia
dan sistem, untuk mampu menghadapi kedatangan pesaingnya, baik dalam industri
yang sejenis maupun industri lain. . Para Pendiri organisasi
meletakkan dasar bagi budaya organisasi yang didirikannya sejak awal, baik
secara sadar atau tidak. Seiring dengan adanya pertumbuhan organisasi
sebagai hasil interaksi organisasi dengan lingkungannya dalam usaha
pengembangan organisasinya, maka secara sadar nilai-nilai pokok tertentu yang
ada dalam budaya organisasi juga akan mengalami perubahan. Oleh sebab itu,
budaya organisasi perlu dikelola agar sesuai dengan pertumbuhan organisasi
tersebut, karena budaya organisasi memiliki peranan yang sangat penting tehadap
efektifitas organisasi.
PENGERTIAN
EFEKTIFITAS ORGANISASI
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KKBI), kata efektif dapat diartikan dapat membawa hasil atau berhasil guna. Sedangkan organisasi merupakan kesatuan (susunan) yang terdiri atas bagian-bagian (orang) untuk tujuan tertentu atau bias disebut juga kelompok kerja sama antara orang-orang yang diadakan untuk mencapai tujuan bersama. Pengertian lain dari kata efektifitas adalah suatu tingkat prestasi organisasi dalam mencapai tujuannya artinya kesejahteraan tujuan yang telah ditetapkan dapat dicapai. Istilah efektif berasal dari bahasa inggris effective artinya berhasil, sesuatu yang dilakukan berhasil dengan baik. Robbins (2005:27) mendefinisikan efektivitas sebagai tingkat pencapaian organisasi jangka panjang dan jangka pendek. Rumah sakit misalnya, dikatakan efektif jika ia berhasil memenuhi kebutuhan para kliennya dan rumaha sakit itu efisien jika ia dapat hal itu dengan biaya yang rendah. Gibson et al (1992:25) mengemukakan definisi keefektifan sebagai penilaian yang kita buat sehubungan denga prestasi individu, kelompok dan organisasi. Makin dekat prestasi mereka terhadap prestasi yang diharapkan, makin lebih efektif kita menilai mereka. Pendapat ini menyatakan istilah keefektifan dengan prestasi. Pengertian ini sama dengan yang dikemukakan Etzioni (1976:8) bahwa efektivitas aktual dari suatu organisasi tertentu ditentukan oleh tingkat sejauh mana organisasi tersebut meralisasikan tujuannya.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KKBI), kata efektif dapat diartikan dapat membawa hasil atau berhasil guna. Sedangkan organisasi merupakan kesatuan (susunan) yang terdiri atas bagian-bagian (orang) untuk tujuan tertentu atau bias disebut juga kelompok kerja sama antara orang-orang yang diadakan untuk mencapai tujuan bersama. Pengertian lain dari kata efektifitas adalah suatu tingkat prestasi organisasi dalam mencapai tujuannya artinya kesejahteraan tujuan yang telah ditetapkan dapat dicapai. Istilah efektif berasal dari bahasa inggris effective artinya berhasil, sesuatu yang dilakukan berhasil dengan baik. Robbins (2005:27) mendefinisikan efektivitas sebagai tingkat pencapaian organisasi jangka panjang dan jangka pendek. Rumah sakit misalnya, dikatakan efektif jika ia berhasil memenuhi kebutuhan para kliennya dan rumaha sakit itu efisien jika ia dapat hal itu dengan biaya yang rendah. Gibson et al (1992:25) mengemukakan definisi keefektifan sebagai penilaian yang kita buat sehubungan denga prestasi individu, kelompok dan organisasi. Makin dekat prestasi mereka terhadap prestasi yang diharapkan, makin lebih efektif kita menilai mereka. Pendapat ini menyatakan istilah keefektifan dengan prestasi. Pengertian ini sama dengan yang dikemukakan Etzioni (1976:8) bahwa efektivitas aktual dari suatu organisasi tertentu ditentukan oleh tingkat sejauh mana organisasi tersebut meralisasikan tujuannya.
KOMPONEN-KOMPONEN
EFEKTIFITAS ORGANISASI
Efektifitas organisasi memiliki tiga komponen, yaitu:
1. Efektifitas Individu (Individual Effectiveness)
Seberapa jauh tiap individu yang ada di organisasi mempengaruhi efektifitas organisasi secara keseluruhan, terdiri dari: (a) Ability, (b) Skill, (c) Knowledge, (d) Attitude, (e) Motivation, (f) Stress
2. Efektifitas Kelompok (Groups Effectiveness)
Efektifitas organisasi dipengaruhi oleh kelompok-kelompok yang ada di organisasi yang bersangkutan, yaitu oleh: (a) Cohesiveness, (b)Leadership, (c) Structure, (d) Status, (e) Roles, (f) Norms
3. Efektifitas Organisasi (Organizational Effectiveness)
Efektifitas organisasi ditentukan oleh organisasi secara umum, meliputi sebagai berikut: (a) Environment, (b) Technology, (c) Strategic choices, (d) Structure, (e) Processes, (f) Culture
Efektifitas organisasi memiliki tiga komponen, yaitu:
1. Efektifitas Individu (Individual Effectiveness)
Seberapa jauh tiap individu yang ada di organisasi mempengaruhi efektifitas organisasi secara keseluruhan, terdiri dari: (a) Ability, (b) Skill, (c) Knowledge, (d) Attitude, (e) Motivation, (f) Stress
2. Efektifitas Kelompok (Groups Effectiveness)
Efektifitas organisasi dipengaruhi oleh kelompok-kelompok yang ada di organisasi yang bersangkutan, yaitu oleh: (a) Cohesiveness, (b)Leadership, (c) Structure, (d) Status, (e) Roles, (f) Norms
3. Efektifitas Organisasi (Organizational Effectiveness)
Efektifitas organisasi ditentukan oleh organisasi secara umum, meliputi sebagai berikut: (a) Environment, (b) Technology, (c) Strategic choices, (d) Structure, (e) Processes, (f) Culture
Organisasi akan berjalan
terarah jika memiliki tujuan yang jelas. Adanya tujuan akan memberikan motivasi
untuk melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya. Selanjutnya tujuan organisasi
mencakup beberapa fungsi diantaranya yaitu memberikan pengarahan dengan cara
menggambarkan keadaan yang akan datang yang senantiasa dikejar dan diwujudkan
oleh organisasi. Selama ini untuk menilai apakah organisasi itu efektif atau
tidak, secara keseluruhan ditentukan oleh apakah tujuan organisasi itu tercapai
atau tidak. Akan tetapi, dalam kenyataan akan sangatlah sulit untuk meilhat
atau mempersamakan efektivitas organisasi dengan tingkat keberhasilan dengan
pencapaian tujuan. Hal ini disebabkan selain karena selalu ada penyesuaian
dengan target yang akan dicapai, juga dalam proses pencapaiannya sering kali
ada tekanan dari keadaan sekeliling. Kenyataan tersebut selanjutnya menyebabkan
jarang sekali target dapat dicapai secara keseluruhan. Suatu organisasi tidak memperhatikan
faktor-faktor yang mempengaruhi efektivitas organisasi, akan mengalami
kesulitan dalam mencapai tujuannya tetapi apabila suatu perusahaan
memperhatikan faktor-faktor tersebut maka tujuan yang ingin dicapai dapat lebih
mudah tercapai hal itu dikarenakan efektivitas akan selalu dipengaruhi oleh
faktor-faktor tersebut. Tercapainya tingkat efektivitas yang tinggi perlu
memperhatikan kriteria-kriteri efektivitas sebagaimana yang dikemukakan oleh
Richard M.Steers (1985:46) sebagai berikut: (1) Produktivitas. (2) Kemampuan
berlaba. (3) Kesejahteraan pegawai. Secara lebih operasional, Emitai Atzoni
yang dikutip oleh Indrawijaya (1989:227) mengemukakan “efektivitas organisasi
akan tercapai apabila organisasi tersebut memenuhi kriteria mampu beradaptasi,
berintegrasi, memiliki motivasi, dan melaksanakan produksi dengan baik”.
DEFINISI
BUDAYA ORGANISASI
Definisi budaya organisasi antara lain dikemukakan oleh
Robbins (1990), budaya organisasi merupakan nilai-nilai dominan atau falsafah
yang menuntun kebijaksanaan organisasi terhadap para anggota organisasi
tersebut. Selain itu budaya organisasi juga merupakan sistem nilai yang
diyakini, dipelajari, diterapkan, serta dikembangkan secara berkesinambungan,
dan dijadikan acuan perilaku oleh semua anggota organisasi untuk mencapai
tujuan perusahaan yang telah ditetapkan.
Selain itu, Shein (Renstra LAPAN, 2005) – pakar dalam
“Applied Strategic Planning” mendefinisikan budaya sebagai suatu pola dari
asumsi-asumsi dasar (keyakinan dan harapan) yang ditemukan ataupun dikembangkan
oleh suatu kelompok tertentu dari organisasi, dan kemudian menjadi acuan dalam
mengatasi persoalan-persoalan yang berkaitan dengan adaptasi keluar dan
integrasi internal, yang dalam kurun waktu tertentu telah berfungsi dengan
baik, maka dipandang sah, karenanya dibakukan, sehingga setiap anggota
organisasi harus menerimanya sebagai cara yang tepat dalam pendekatan
pelaksanaan pekerjaan-pekerjaan dalam organisasi.
Berdasarkan definisi di atas, maka dapat disimpulkan
bahwa budaya adalah suatu pola dari keseluruhan keyakinan dan harapan yang
dipegang teguh secara bersama oleh semua anggota organisasi dalam pelaksanaan
pekerjaan yang ada dalam organisasi tersebut. Dengan demikian, budaya dalam
suatu organisasi adalah menjadi pengikat semua karyawan dan sekaligus sebagai
pemberi arti dan maksud dari keterlibatan karyawan dalam organisasi.
Budaya meliputi suatu sistem nilai yang diyakini oleh
individu maupun organisasi. Rokeach (Renstra LAPAN, 2005) mendefinisikan
nilai sebagai suatu keyakinan yang berlangsung terus dan relatif tetap bahwa
suatu cara khusus mengenai perilaku atau keadaan akhir dari keberadaan adalah
lebih baik secara pribadi atau secara sosial dibandingkan dengan cara yang
berlawanan dengan cara khusus tersebut. SedangkanSistem Nilai adalah suatu
rangkaian kesatuan dari nilai-nilai yang relatif penting dalam organisasi.
Oleh karena itu, nilai yang dianut oleh organisasi akan
membawa organisasi kepada suatu tujuan tertentu yang dianggap benar. Demikian
pula halnya, nilai yang dianut organisasi akan membawa organisasi tersebut
kepada cara-cara tertentu yang tepat dalam mencapai tujuan organisasi, dan
cenderung mengabaikan cara-cara lainnya karena dianggap sebagai cara yang
salah, dengan kata lain nilai menentukan norma-norma
ataupun prinsip-prinsip (standar tindakan) dalam organisasi.
Sehubungan dengan lingkup substansi nilai dan kaitannya dengan budaya, maka
dapat dinyatakan bahwa suatu orgtanisasi yang mempunyai budaya kuat/mapan
adalah organisasi dengan misi dan prinsip yang diterapkannya cukup jelas, dan
lebih lanjut dapat dipahami setiap anggota organisasi dan stakeholders. Untuk
pemahaman ini, organisassi dituntut untuk mengembangkan“culture network”.
Berdasarkan
definisi budaya dan nilai yang telah diuraikan di atas
dapat dinyatakan bahwa budaya adalah himpunan sentral dari asumsi-asumsi dasar
dan nilai-nilai, di mana nilai-nilai akan menurunkan prinsip-prinsip. Lebih
lanjut penerapan prinsip-prinsip akan menjadi upaya validasi bagi budaya
tersebut. Oleh karena itu dalam suatu organisasi selalu terjadi proses siklus
budaya: keyakinan - nilai - prinsip - keyakinan.
Budaya mengimplikasikan adanya dimensi atau karakteristik
tertentu yang berhubungan secara erat dan interdependent. Robbins
(1990) mengemukakan bahwa ada sepuluh karakteristik budaya yang berlaku di
suatu organisasi yang membedakan antara budaya dari masing-masing organisasi.
Karakteristik tersebut adalah:
1. Inisiatif
individual
Tingkat
tanggung jawab, kebebasan, dan independensi yang dimiliki oleh individu.
2. Toleransi
terhadap tindakan beresiko
Sejauh
mana para karyawan dianjurkan untuk bertindak agresif, inovatif, dan berani mengambil
resiko.
3. Arah
(direction)
Sejauh
mana organisasi menciptakan dan menggambarkan secara jelas sasaran dan harapan
mengenai prestasi.
4. Integrasi
Sejauh
mana unit-unit dalam organisasi didorong untuk bekerja secara terkoordinasi.
5. Dukungan
dari manajemen
Sejauh
mana para manager dapat berkomunikasi secara jelas, memberikan bantuan, serta
dukungan terhadap bawahannya.
6. Control
Seberapa
banyak peraturan dan pengawasan langsung yang digunakan untuk mengawasi
dan mengendalikan perilaku karyawan.
7. Identitas
Sejauh
mana para anggota organisasi mengidentifikasi dirinya sebagai bagian dari
organisasi secara keseluruhan dibandikan dengan kelompok kerja atau dengan
bidang keahlian professional.
8. Sistem
imbalan (reward sistem)
Sejauh
mana alokasi reward (misalnya, kenaikan gaji, promosi) berdasarkan
pada kriteria kinerja karyawan sebagai kebalikan dari sistem senioritas, sikap
pilih kasih, dan sebagainya.
9. Toleransi
terhadap konflik
Sejauh
mana para karyawan didorong untuk mengemukakan konflik dan kritik secara
terbuka
10. Pola
– pola komunikasi
Sejauh
mana komunikasi organisasi dibatasi oleh hierarki kewenangan yang formal.
Kesepuluh
karakteristik tersebut mencakup dimensi struktural dan perilaku dalam
organisasi.
ELEMEN BUDAYA ORGANISASI
Budaya organisasi merupakan karakteristik organisasi yang
membentuk perilaku anggota organisasi dalam mencapai tujuannya, melalui
pemahaman yang baik terhadap elemen-elemen pembentuk budaya seperti keyakinan,
tata nilai, atau adat kebiasaan. Semakin anggota organisasi memahami, mengakui,
menjiwai, dan mempraktekkan keyakinan, tata nilai atau adat kebiasaan tersebut
dan semakin tinggi tingkat kesadaran mereka, budaya organisasi akan semakin
eksis dan lestari. Artinya budaya organisasi merupakan keyakinan setiap orang di dalam organisasi
akan jati diri yang secara idiologis dapat memperkuat eksistensi organisasi
baik ke dalam sebagai pengikat atau simpul organisasi dan keluar sebagai
identitas sekaligus kemampuan untuk beradaptasi dengan berbagai situasi dan
kondisi yang dihadapi organisasi. Budaya organisasi terdiri dari beberapa
elemen, perbedaan budaya satu organisasi dengan organisasi lainnya terletak
pada elemen budaya organisasi, sehingga setiap elemen memerlukan pemahaman
tersendiri agar member pemahaman budaya secara utuh. Beberapa ahli mengemukakan
elemen budaya organisasi, seperti Denison (1990) nilai- nilai, keyakinan dan
prinsip-prinsip dasar, dan praktek-praktek manajemen serta perilaku; Schwartz
dan Davis (1981) kepercayaan, harapan dan norma; Schein (1992) pola asumsi
dasar bersama, nilai dan cara untuk melihat, berfikir dan merasakan, dan
artifak; Cartwright (1999) rentangan sistematis, proses pembelajaran,
menciptakan cara hidup, dan adaptasi lingkungan; dan Hofstede (2005) symbol,
pahlawan, ritual, dan nilai. Deal dan Kennedy (1982) nilai, keteladanan,
lingkungan organisasi, rutinitas dan jaringan komunikasi. Terlepas dari adanya
perbedaan seberapa banyak elemen budaya organisasi dari setiap ahli, secara
umum elemen budaya organisasi terdiri dari dua elemen pokok yaitu elemen yang
bersifat idealistik dan elemen yang bersifat perilaku.
PANDANGAN
BUDAYA DI LINGKUNGAN ORGANISASI
Perspektif budaya di lingkungan organisasi merupakan
seperangkat kerangka kerja yang membimbing orang-orang untuk bersikap dan berperilaku
tepat demi keberhasilan organisasi. Budaya organisasi member arah dan
memperkuat standar perilaku untuk mengendalikan pelaku organisasi agar
melaksanakan tugas dan tanggung jawab mereka secara efektif dan efisien untuk
mencapai tujuan dan sasaran organisasi. Implikasinya menyangkut percepatan
peningkatan kualitas kinerja pada organisasi memerlukan komitmen yang kuat,
kreativitas, inovasi, dan terobosan dalam mengimplementasikan kebijakan di
dalam organisasi. Hubungan antar budaya dan efektivitas organisasi, di pandang
sebagai kesuksesan organisasi disebabkan oleh kombinasi dari nilai-nilai dan
keyakinan, peraturan dan praktik, serta hubungan antar keduanya. Konsekuensi
logis hal tersebut adalah diperlukan identifikasi cirri budaya organisasi yang berperan
kuat dalam mendukung efektivitas organisasi. Dengan komposisi yang seimbang
terkait empat sifat utama budaya; keterlibatan, konsistensi, beradaptasi, dan
misi. Organisasi dapat dengan mudah menjadi efektif. Kemampuan bersaing secara
efektif, semua organisasi dihadapkan pada sejumlah tantangan yang saling
bertentangan, sebagaian besar organisasi harus secara simultan melengkapi
integrasi internal dan koordinasi dengan adaptasi eksternal, mencapai komposisi
yang seimbang stabilitas dan fleksibilitas. Berdasarkan asumsi tersebut,
kerangka kerja untuk menguji gagasan bahwa budaya berpengaruh pada efektivitas
organisasi, adalah mengembangkan pemahaman tentang bagaimana menggabungkan
ciri-ciri budaya untuk mempengaruhi efektivitas organisasi dengan komposisi
yang seimbang karena hal ini memudahkan organisasi menjadi efektif.
MENCIPTAKAN,
MEMPERTAHANKAN, DAN MENYEBARLUASKAN BUDAYA
Para pendiri organisasi secara tradisional mempunyai
pengaruh penting dalam pembentukan budaya organisasi, karena para pendiri
tersebut adalah orang-orang yang mempunyai ide awal, mereka juga biasanya
mempunyai bias tentang bagaimana ide-ide tersebut direalisasikan. Robbins
(1990) berpendapat bahwa budaya organisasi merupakan hasil interaksi antara (1)
bias dan asumsi para pendirinya, dan (2) hasil belajar dan pengalaman dari
anggota organisasi. Budaya yang diciptakan dalam suatu kondisi atau lingkungan
organisasi mempunyai Kekuatan-kekuatan yang mempunyai peranan penting untuk
mempertahankan budaya tersebut. kekuatan tersebut adalah praktek seleksi
organisasi, tindakan manajemen puncak, serta metode sosialisasi organisasi.
·
SELEKSI
Tujuan dari proses seleksi adalah untuk merekrut
orang-orang yang memiliki kemampuan dan kompetensi yang sesuai dengan
kualifikasi yang dibutuhkan oleh organisasi, namun selain itu, hal tujuan
lainnya adalah menemukan orang - orang yang cocok atau sesuai dengan budaya
organisasi. Menurut Rothman (2006) dengan menggunakan metode cultural fit,
maka dapat dapat ditemukan orang (calon karyawan) yang memiliki kemampuan untuk
beradaptasi dengan budaya organisasi dalam porsi yang sama besarnya dengan
kemampuan teknisnya. Dengan pendekatan ini, akan lebih mudah menemukan orang
yang dapat terintegrasi dengan organisasi.
·
TINDAKAN
TOP MANAJEMEN
Tindakan yang dilakukan oleh pihak manajemen mempunyai
pengaruh atau dampak yang besar terhadap budaya organisasi. Setiap tindakan
yang diambil oleh manajemen, baik secara langsung maupun tidak langsung akan
mempengaruhi perilaku kerja bawahan, karena tindakan tersebut dalam kurun waktu
tetentu akan mempengaruhi karakteristik budaya organisasi. Misalnya bagaimana
suatu kejadian dalam organisasi menetapkan norma-norma yang kemudian meresap
melalui organisasi dan memberitahukan apakah pengambilan resiko diinginkan atau
tidak, sejauhmana kebebasan yang diberikan oleh para manajer kepada bawahannya,
kriteria kinerja seperti apa yang akan menunjang kenaikan gaji, promosi, dan
imbalan lainnya.
·
SOSIALISASI
Sosialisasi adalah proses penyesuaian diri terhadap
budaya organisasi. Metode atau strategi yang digunakan oleh organisasi dalam
mensosialisasikan budayanya mempengaruhi apakah budaya tersebut mudah
terintegrasi atau tidak.
Budaya adalah suatu cara hidup yang berkembang dan
dimiliki bersama oleh sebuah kelompok orang dan diwariskan dari generasi ke generasi. Budaya terbentuk
dari banyak unsur yang rumit, termasuk sistem agama dan politik, adat istiadat, bahasa, perkakas, pakaian, bangunan, dan karya seni. Bahasa, sebagaimana juga budaya, merupakan
bagian tak terpisahkan dari diri manusia sehingga banyak orang cenderung
menganggapnya diwariskan secara genetis. Ketika seseorang berusaha berkomunikasi dengan orang-orang yang berbeda budaya dan
menyesuaikan perbedaan-perbedaannya, membuktikan bahwa budaya itu dipelajari.
Budaya adalah suatu pola hidup menyeluruh. budaya
bersifat kompleks, abstrak, dan luas. Banyak aspek budaya turut menentukan
perilaku komunikatif. Unsur-unsur sosio-budaya ini tersebar dan meliputi banyak
kegiatan sosial manusia
Robbins (1990: 49) mendefinisikan efektifitas organisasi
sebagai suatu tingkat dimana suatu organisasi dapat merealisasikan tujuannya.
Pertanyaan berikutnya adalah bagaimana mengukur/menguji efektivitas organisasi?
Beberapa teori dan hasil penelitian telah menawarkan beberapa model untuk
menguji efektivitas organisasi. Pendekatan tradisional digunakan untuk mengukur
efektivitas organisasi individual dalam rangka untuk mempertemukan kemampuan
dan tujuan organisasi tersebut dalam setiap bidang yang khusus. Pendekatan ini
menimbulkan beberapa pertanyaan sehubungan dengan pengukuran efektivitas
organisasi.
BUDAYA
DAN KEEFEKTIFAN ORGANISASI
Budaya organisasi memiliki peran yang sangat strategis
terhadap kesuksesan suatu organisasi, misalnya untuk membangun kinerja ekonomi
dan kinerja organisasionalnya dalam jangka panjang sebagai sarana bagi anggota
organisasi untuk memenuhi kebutuhan serta mencapai tujuannya. Sejauh mana
budaya mempengaruhi efektifitas organisasi dapat diketahui dengan melihat kuat
atau lemahnya budaya organisasi tersebut.
Robbins (1996) mengemukakan bahwa organisasi dengan
budaya yang lemah, individu di dalamnya tidak memiliki kesiapan akan terjadinya
sebuah perubahan. Mereka lebih menyukai nilai-nilai, baik nilai-nilai individu
maupun nilai-nilai kelompok yang selama ini telah dimiliki. Mereka juga lebih
menyukai cara kerja yang selama ini telah mereka lakukan dan menolak adanya
perubahan, terutama perubahan yang menuntut kemampuan dan ketrampilan baru
untuk memenuhi tuntutan dan kewajiban yang diharapkan.
Apabila komponen dalam organisasi tidak mampu
menyesuaikan diri dengan perubahan, maka hal ini dapat menghambat pertumbuhan
dan perkembangan organisasi. Selanjutnya berdampak pada efektivitas organisasi
itu sendiri.
Di sisi lain, adanya nilai inti (core value) dari
organisasi yang dianut dengan kuat, diatur dengan baik, dan dirasakan secara
meluas merupakan cirri dari budaya organisasi yang kuat. Semakin banyak anggota
organisasi yang menerima nilai-nilai inti (core values), memahami dan
menyetujui jajaran tingkat kepentingannya, dan tingginya komitmen tehadap
organisasi, maka semakin kuat budaya tersebut. Dengan adanya budaya organisasi
yang kuat dan sehat di setiap perusahaan akan berdampak positif di perusahaan
tersebut. Manfaat besarnya adanya budaya organisasi adalah dimana anggotanya
atau karyawan dapat terfokuskan dan tercurahkan segala perhatian pada system
nilai-nilai yang ada dan berlaku di dalam organisasi. Nilai dan keyakinan
tersebut akan diwujudkan menjadi perilaku keseharian mereka dalam bekerja,
sehingga akan menjadi kinerja individual. Hal ini telah dinyatakan sebelumnya
oleh Robbins (2005) budaya organisasi yang kuat sangat diperlukan untuk
memastikan bahwa semua orang yang berada di dalam organisasi diarahkan kesuatu
pandangan arah yang sama. Selain itu Luthans (2006) melihat budaya organisasi
memberikan arah dan memperkuat standar perilaku untuk mengendalikan pelaku
organisasi agar melaksanakan tugas dan tanggung jawab mereka secara efektif dan
efisien untuk mencapai tujuan dan sasaran organisasi yang telah disepakati
bersama.Dengan adanya budaya organisasi kuat dan sehat dapat difungsikan sebagi
tuntutan yang mengikat para karyawan karena diformulasikan secara formal ke
dalam berbagai peraturan dan ketentuan perusahaan. Dengan demikian budaya
organisasi akan menciptakan peningkatan produktifitas, dan kinerja.
Budaya organisasi yang kuat dapat mempengaruhi
efektivitas organisasi, karena untuk mencapai efektivitas maka dibutuhkan budaya
organisasi, strategi, lingkungan, dan teknologi yang sesuai. Budaya organisasi
lebih kuat apabila terdapat kecocokan budaya (culture fit) dengan
variabel-variabel penting lainnya, meliputi: strategi, lingkungan, dan
teknologi (Robbins, 1990).
Kanungo dan Jaeger (Smith, dkk: 2001) juga mengemukakan
bahwa kecocokan budaya (culture fit) menentukan efektivitas organisasi. Budaya
yang dimaksud di sini mencakup: lingkungan fisik dan sosio-politik, yang
meliputi konteks ekologi, sosialisasi, hukum, dan sistem politik yang sangat
berpengaruh terhadap lingkungan perusahaan yang mencakup karakteristik pasar,
kepemilikan (ownership), sifat industri, dan sebagainya. Hal ini mempengaruhi
budaya kerja dalam organisasi, yang diterapkan pada sejumlah kegiatan HRM (human
resource management), yang antara lain meliputi: desain pekerjaan, pengawasan,
dan prosedur pemberian reward.
Budaya yang kuat juga akan meningkatkan perilaku yang
konsisten dari anggota organisasi. Oleh karena itu, budaya dapat dijadikan
sebagai sarana yang kuat untuk mengontrol dan dapat bertindak sebagai sebuah
substitusi bagi formalisasi. Semakin kuat budaya suatu organisasi maka semakin
lemah atau rendah formalisasi yang berlaku di oraganisasi tersebut. Kebutuhan
manajemen untuk mengembangkan peraturan dan kebijakan formal sebagai pedoman
perilaku kerja anggota organisasi makin kurang. Pedoman tersebut akan dipahami
dan diterima oleh anggota organisasi apabila mereka menerima budaya organisasi
tersebut.
DEFINISI
KONSEPTUAL
1. Budaya organisasi adalah tingkat kemampuan seperangkat
keyakinan, tata nilai, dan pola perilaku yang melekat pada system organisasi
yang senantiasa mengontrol perilaku anggota organisasi beraktifitas dalam
organisasi.
2. Efektivitas organisasi adalah pencapaian tujuan yang
ditetapkan dengan usaha kerjasama, berkaitan dengan optimalisasi ketercapaian
rencana (target).
|
|
KESIMPULAN
Dari
uraian-uraian yang telah dipaparkan di atas dapat disimpulkan bahwa efektifitas
organisasi merupakan suatu tingkat prestasi organisasi dalam mencapai tujuannya
dengan memanfaatkan segala sumber daya yang ada secara tepat guna.
PENUTUP
Demikian yang dapat kami
paparkan mengenai materi yang menjadi pokok bahasan dalam makalah ini, tentunya
masih banyak kekurangan dan kelemahannya, kerena terbatasnya pengetahuan dan
kurangnya rujukan atau referensi yang ada hubungannya dengan judul makalah ini.
Saya banyak berharap para pembaca yang budiman dapat memberikan kritik dan saran yang membangun kepada saya demi sempurnanya makalah ini dan dan penulisan makalah di kesempatan-kesempatan berikutnya. Semoga makalah ini berguna bagi penulis pada khususnya juga para pembaca yang budiman pada umumnya.
Saya banyak berharap para pembaca yang budiman dapat memberikan kritik dan saran yang membangun kepada saya demi sempurnanya makalah ini dan dan penulisan makalah di kesempatan-kesempatan berikutnya. Semoga makalah ini berguna bagi penulis pada khususnya juga para pembaca yang budiman pada umumnya.
http://zizer.wordpress.com/2009/04/26/efektifitas-organisasi/
http://journal.uii.ac.id/index.php/JAAI/article/viewFile/870/797
Tuesday, October 9, 2012
MENGELOLA PENANGGULANGAN BENCANA
Penderitaan merupakan realitas dunia,juga realtias manusia.
Maksudnya bahwa didunia itu pasti ada penderitaan,dan penderitaan itu pasti
akan terjadi pada manusia. Penderitaan disebabkan oleh beberapa hal. Ada
penderitaan karena alasan fisik seperti bencana alam,penyakit dan kematian, ada
pula penderitaan karena alasan moral seperti kekecewaan dalam hidup,kebencian
kepada orang lain.
Bangsa Indonesia menyimpan penderitaan karena alasan moral
yang disebabkan adanya stempel ekstrim kanan dan ekstrim kiri yang berlanjut
dengan perlakuan diskriminasi. Setiap penderitaan harus memiliki jalan
keluar,tergantung besar kecilnya penderitaan tersebut.
Bencana adalah peristiwa atau rangkaian peristiwa yang
mengancam dan mengganggu kehidupan dan penghidupan masyarakat yang disebabkan
baik oleh faktor alam dan/atau faktor non-alam maupun faktor manusia sehingga
mengakibatkan timbulnya korban jiwa manusia, kerusakan lingkungan, kerugian
harta benda, dan dampak psikologis.
Seperti halnya contoh penderitaan yang dialami oleh bencana
alam. Bencana alam merupakan contoh mendasar yang butuh penanggulangan. Penyelenggaraan penanggulangan bencana adalah
serangkaian upaya yang meliputi penetapan kebijakan pembangunan yang berisiko
timbulnya bencana, kegiatan pencegahan bencana, tanggap darurat, serta kegiatan
rehabilitasi dan rekonstruksi.
Penanggulangan tersebut membutuhkan seorang pemimpin atau
seorang manajer yang mengatur dan merencanakan strategi penanggulangan terhadap
korban bencana alam.
Strategi
yang dibutuhkan seperti
·
Meningkatkan
jumlah dan mutu bantuan sosial bagi korban bencana alam atau pengungsi
·
Meningkatkan
kualitas SDM bagi petugas penanggulangan bencana khususnya dengan
menyelenggarakan pelatihan-pelatihan.
·
Meningkatkan
anggaran bantuan sosial bagi korban bencana alam
·
Membentuk
jaringan komunikasi dan informasi penanggulangan bencana alam
· Serta menyempurnakan mekanisme bantuan sosial
korban bencana alam sesuai dengan perubahan paradigma yang terus berkembang
Selain menanggulangi
bencana, seorang pemimpin yang baik juga harus melakukan perencanaan dalam
penanggulangan yang matang dalam menangani bencana alam seperti dilakukan dalam
bentuk:
a. penyusunan kebijakan dan strategi
penanggulangan bencana;
b. penyusunan perencanaan
penanggulangan bencana;
c. penentuan standar
kebutuhan minimun;
d. pembuatan prosedur
tanggap darurat bencana;
e. pengurangan resiko
bencana;
f. pembuatan peta rawan
bencana;
g. penyusunan anggaran
penanggulangan bencana;
h. penyediaan
sumberdaya/logistik penanggulangan
bencana;dan
i. pendidikan dan pelatihan,
penyelenggaraan gladi/simulasi
penanggulangan bencana.
Namun dalam bekerja tentu
seorang manajer dan pemimpin membutuhkan bantuan dari berbagai pihak. Kerja
sama dalam menanggulangi bencana menjadi kunci sukses dalam penanggulangan
tersebut.
PENGARUH BUDAYA TERHADAP KINERJA PEMASARAN
Budaya organisasi merupakan sistem
penyebaran kepercayaan dan nilai-nilai yang berkembang dalam suatu organisasi
dan mengarahkan perilaku anggota-anggotanya. Budaya organisasi dapat menjadi
instrumen keunggulan kompetitif yang utama, yaitu bila budaya organisasi
mendukung strategi organisasi, dan bila budaya organisasi dapat menjawab atau
mengatasi tantangan lingkungan dengan cepat dan tepat. Budaya organisasi selain
berpengaruh terhadap kinerja organisasi,
Selanjutnya kinerja organisasi
berpengaruh terhadap kepuasan kerja karyawan. Kepuasan kerja karyawan yang
tinggi merupakan salah satu indicator juga efektivitas manajemen, yang berarti
bahwa budaya organisasi telah dikelola dengan baik. Namun kinerja karyawan erat
kaitannya dengan kinerja pemasaran. Sehingga dapat dikatakan bahwa budaya
organisasi memiliki peran penting dalam kinerja pemasaran.
Kinerja
pemasaran merupakan konsep untuk mengukur prestasi pemasaran suatu produk Kinerja
pemasaran merupakan konstruk atau faktor yang umum digunakan untuk mengukur
dampak dari sebuah strategi perusahaan. Strategi perusahaan selalu diarahkan
untuk menghasilkan kinerja, baik berupa kinerja pemasaran ( seperti volume
penjualan, porsi pasar atau market share dan tingkat pertumbuhan penjualan) maupun
kinerja keuangan. Untuk itu ukuran yang sebaiknya digunakan adalah ukuran yang
bersifat activity based measure yang dapat menjelaskan aktivitas-aktivitas
pemasaran yang menghasilkan kinerja pemasaran tersebut
Aktivitas pemasaran dilakukan oleh
seorang manajer. Manajer yang baik harus mampu menarik pelanggan dengan
kreativitas yang dia miliki. Dengan adanya budaya organisasi yang mengikat di
setiap perusahaan, tidak akan menjadi kendala besar untuk seorang manajer dalam memasarkan produknya, baik di
pasar atau didalam suatu perusahaan.
Konsep pemasaran menyatakan bahwa untuk
mencapai tujuan organisasi seperti market share dan profitabilitas tergantung
pada kemampuan perusahaan dalam menentukan kebutuhan dan keinginan pasar
sasaran dan memuaskannya dengan lebih efektif dan efisien dibandingkan dengan
pesaingnya. Beberapa tahun terakhir orientasi pasar mengalami peningkatan dan
dipandang sebagai elemen kunci untuk mencapai kinerja perusahaan. Orientasi
pasar sangat penting dalam manajemen pemasaran modern. Perusahaan yang
berorientasi pasar dinilai memiliki pengetahuan tentang pasar yang lebih tinggi
serta memiliki kemampuan berhubungan dengan pelanggan lebih baik, kemampuan ini
dipandang mampu menjamin perusahaan untuk memperoleh keuntungan yang lebih
tinggi dibandingkan dengan perusahaan yang kurang berorientasi pasar .
Implikasi
Manajerial
1. Dibuat
data base tentang pelanggan
2. Disediakan
kertas untuk menulis kritik dan saran untuk pelanggan
3. Dengan
melakukan survei pasar terhadap selera konsumen terhadap produk yang ia
pasarkan
4. Dengan
memberikan potongan-potongan harga bagi pelanggan yang loyal
5. Dengan
membuat iklan-iklan promosi barang yang akan dipasarkan di Koran
6. Menampung
semua masukan masukan pelanggan dan diimplementasikan respon yang bernilai
positif
7. Menggali
dan mencari ide-ide yang unik
8. Diberikan
edukasi tentang arti pentingnya menciptakan hal-hal baru yang unik yang disukai
oleh konsumen dan mengikuti training
9. Promosi-promosi
bagi pelanggan yang loyal yang membeli diberikan gratis beberapa produk atau
potongan harga.
Dengan
adanya implementasi yang dilakukan manajer diatas, budaya perusahaan tentu
tidak akan menghambat kinerja karyawan dan kinerja pemasaran didala suatu
perusahaan.
Subscribe to:
Posts (Atom)